Sep 15, 2012

Serial Petualangan Keluarga Kijang Merah (PART 1)


“Bencana dan awal dari sebuah Legenda”


Aku punya kisah yang kudengar dari pohon beringin tua pada sebuah taman kecil di sudut kota. Tempat mungil itu jauh dari kebisingan dan kesibukan orang-orang berlalu lalang. Aku sedang duduk diayunan ketika aku mendengar desau lirih dan suara gemeretak.

Mulanya aku pikir suara itu berasal dari seorang ibu yang sedang mengeluhkan kenakalan anak-anaknya yang bermain di ujung taman. Aku hampir mengacuhkan segalanya jika aku tidak melihat ranting pohon beringin tua bergerak-gerak meskipun tak ada angin hebat waktu itu.

"Mendekatlah kemari", ucap si pohon beringin tua bagai bergumam.

Peganganku pada ayunan nyaris terlepas. Matahari kini tepat berada di ujung langit menunggu tenggelam, dan senja mewarnai langit dengan warna jingga kemerahan. Aku masih berpikir dan tak bergerak, kukira itu hanya suara gesekan ranting.

"Mendekatlah", tutur si Pohon Beringin Tua ngotot. Suaranya lirih dan berat. "Jangan membelalak ke kiri dan kanan. Kamu terlihat bodoh".

Main di ayunan tak lagi mengasyikan sore itu. Aku berjalan mendekati pohon beringin tua, kemudian merapatkan telingaku ke batangnya yang paling besar, karena dari sanalah suara itu berasal. Lantas aku mendengar sepenggal dongeng yang kisahnya lebih manis daripada apel merah yang telah ranum.

Keluarga Kijang Merah, kumpulan kijang yang menerangi seisi hutan.

Sampai langit temaram, aku mendengar cerita si pohon beringin tua. Kisah ini kutulis ulang untuk kuceritakan padamu...


& & &


Alkisah, semua bermula ketika hutan bernama Tropicallista mengalami kemarau yang amat panjang, menggugurkan daun dan ranting-ranting pohon, mengeringkan sungai dan kolam-kolam air, membuat seluruh penghuni hutan kehausan dan kelaparan.

Pohon pohon menjadi kering, daunnya meranggas dan mati perlahan, binatang-binatang tak berdaya, berjalan lemas mencari sumber air dan makanan, tak sedikit yang kemudian mati.

Pada saat semua mulai putus asa, munculah kura-kura tua penghuni sungai yang bijaksana. Ia berkata bahwa satu-satunya jalan keluar untuk menyelamatkan Hutan Tropicallisa dari bencana kekeringan adalah dengan mencari sumber air abadi yang terletak di gunung maracabaya. Gunung maracabaya adalah gunung yang setiap hari terihat gagah menjulang di sebelah selatan hutan. Gunung yang penuh bahaya yang bahkan katanya hampir tak ada yang mampu mencapai puncaknya karena jalan yang harus dilalui begitu sulit dan terjal.

Kabar dari kura-kura tua, menyebar ke seluruh isi hutan. Menjadi perbincangan ramai diantara para penghuni hutan, namun mereka berfikir bahwa jalan keluar itu sama saja seperti menjemput mati, mereka lebih berharap menunggu hujan dibandingkan harus bersusah payah mencari sumber air abadi yang bahkan kebenarannya masih diragukan.

Sementara itu, Di salah satu bagian hutan Tropicallista, terdapat sebuah pohon beringin yang sangat besar dan di sana hiduplah sebuah keluarga kijang merah, salah satu dari 5 keluarga kijang yang masih tersisa di hutan. Sebuah keluarga dengan 6 ekor anak kijang yang salah satunya bernama Dindin dan fala. Merekalah yang tersisa dari keluarga itu. Sementara ayah dan ibu mereka sakit keras dan tak berdaya di bawah pohon beringin tua.
Mendengar desas desus sumber air abadi, Dindin berniat pergi ke gunung maracabaya demi mendapatkan air untuk menyelamatkan ayah dan ibunya. Sumber air yang berada di akar-akar beringin besar tidak akan cukup untuk waktu yang lama, Dindin merasa waktunya tak banyak, maka menjelang pagi saat matahari belum sepenuhnya bersinar ia memutuskan pergi ke gunung maracabaya. Sendirian, meninggalkan ayah, ibu dan menitipkan mereka pada adik satu-satunya yang masih tersisa Fala.

Maka saat matahari timur bersinar menyinari seluruh hutan, dimulailah perjalanan besar Dindin. Perjalanan yang akan mempertemukannya dengan sahabat-sahabat yang luar biasa. Menjadi awal bagi sebuah legenda di Hutan Tropicallista.

Di tempat lain 4 ekor kijang juga memulai perjalanan mereka, 4 kijang dari keluarga yang berbeda-beda dan bagian hutan yang berbeda pula. Mereka mempunyai satu tujuan yang sama, mencari sumber air abadi demi menyelamatkan kelangsungan hidup Hutan Tropicallista.


&&&


Aku masih mendengarkan hingga bulan sudah menggantung di langit,

tiba-tiba si pohon beringin tua kemudian menggumam, “Baiklah jika kau ingin tahu kisah ini lagi, datanglah besok sore seperti biasa. Akan aku ceritakan lagi lanjutan kisah legenda keluarga kijang merah untukmu.”

Baiklah, aku langsung mengangguk saja padanya. Kemudian aku pergi dengan masih penasaran tentang kisah legenda keluarga kijang merah yang akan ku dengar esok sore.

(Bersambung…)

3 comments: